Campak Kembali Jadi Perhatian, Otoritas Kesehatan Minta Masyarakat Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Kasus penyakit campak kembali menjadi sorotan setelah sejumlah daerah di Indonesia melaporkan temuan pasien dalam beberapa waktu terakhir. Otoritas kesehatan mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan mengenali gejala sejak dini serta memastikan imunisasi anak telah lengkap.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dinas Kesehatan setempat melaporkan 57 kasus campak yang telah terkonfirmasi hingga awal Maret 2026. Angka tersebut berasal dari ratusan laporan kasus suspek yang sebelumnya terdeteksi di berbagai wilayah.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, menjelaskan bahwa hingga 3 Maret 2026 terdapat sekitar 349 kasus suspek campak yang tercatat dalam pemantauan dinas kesehatan. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, puluhan kasus dipastikan positif.

Meski tidak ada laporan kematian akibat penyakit tersebut, dinas kesehatan tetap mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan potensi penularan campak. Penyakit ini dikenal memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi dan dapat menyebar dengan cepat.

Campak Masih Menjadi Ancaman Kesehatan

Campak merupakan penyakit infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan disebabkan oleh virus rubeola. Penyakit ini biasanya ditandai dengan demam tinggi serta munculnya ruam merah pada kulit yang menyebar ke seluruh tubuh.

Penjelasan medis yang ditinjau oleh dr. Caisar Dewi Maulina menyebutkan bahwa virus campak termasuk dalam genus Morbillivirus dari keluarga Paramyxoviridae. Virus ini hanya memiliki satu inang alami, yaitu manusia.

Virus dapat masuk ke tubuh melalui hidung, mulut, atau mata. Setelah itu virus menginfeksi sel-sel sistem kekebalan tubuh dan menyebar melalui aliran darah ke berbagai organ seperti kulit, hati, limpa, dan sistem saraf.

Penyebaran virus tersebut dapat memicu peradangan pada pembuluh darah kecil di kulit yang menyebabkan munculnya ruam khas pada penderita campak.

Masa Inkubasi dan Perkembangan Penyakit

Gejala campak tidak muncul secara langsung setelah seseorang terpapar virus. Penyakit ini memiliki masa inkubasi, yaitu periode ketika virus berkembang di dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala yang jelas.

Masa inkubasi campak biasanya berlangsung sekitar 10 hingga 14 hari, namun dalam beberapa kasus dapat mencapai hingga 21 hari.

Setelah masa inkubasi, penderita biasanya mulai mengalami gejala awal seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah berair. Kombinasi gejala tersebut sering dikenal sebagai “3C”, yaitu cough, coryza, dan conjunctivitis.

Pada tahap ini juga dapat muncul bercak putih kecil di dalam mulut yang dikenal sebagai Koplik spots, salah satu tanda khas infeksi campak.

Beberapa hari kemudian, ruam merah mulai muncul di kulit. Ruam biasanya muncul dari belakang telinga atau garis rambut, lalu menyebar ke wajah, leher, dada, hingga ke seluruh tubuh.

Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai

Selain ruam merah pada kulit, penderita campak biasanya mengalami sejumlah gejala lain, antara lain:

  • Demam tinggi
  • Batuk dan pilek
  • Mata merah atau sensitif terhadap cahaya
  • Tubuh terasa lemas
  • Nafsu makan menurun
  • Bintik putih kecil di dalam mulut

Ruam biasanya muncul sekitar tiga hingga lima hari setelah gejala awal muncul.

Cara Penularan Campak

Campak menyebar melalui percikan air liur yang keluar saat penderita batuk atau bersin. Virus dapat terbawa udara dan bertahan selama beberapa waktu di lingkungan sekitar.

Seseorang dapat tertular jika menghirup udara yang terkontaminasi atau menyentuh benda yang terkena virus kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Penderita campak dapat menularkan virus sekitar empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelah ruam terlihat.

Karena itu penyakit ini sering menyebar dengan cepat di tempat yang memiliki banyak interaksi sosial seperti sekolah, fasilitas penitipan anak, atau lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi.

Risiko Komplikasi

Sebagian besar penderita campak dapat pulih dalam beberapa minggu. Namun pada kondisi tertentu, penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius.

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi antara lain:

  • Infeksi paru-paru atau pneumonia
  • Radang telinga
  • Diare berat
  • Radang otak atau ensefalitis

Risiko komplikasi biasanya lebih tinggi pada bayi, balita, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Cara Penanganan Campak

Karena campak disebabkan oleh virus, tidak ada obat khusus yang dapat secara langsung menyembuhkan penyakit tersebut. Penanganan biasanya bertujuan untuk meredakan gejala dan membantu tubuh melawan infeksi.

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:

  • Istirahat yang cukup
  • Mengonsumsi banyak cairan untuk mencegah dehidrasi
  • Mengonsumsi obat penurun demam jika diperlukan
  • Mengonsumsi makanan bergizi dan mudah dicerna

Penderita juga dianjurkan tetap berada di rumah selama masa penularan serta menghindari kerumunan agar virus tidak menyebar kepada orang lain.

Vaksinasi Menjadi Langkah Pencegahan

Tenaga kesehatan menegaskan bahwa vaksinasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah campak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk vaksin MMR, yang melindungi dari campak, gondongan, dan rubella.

Di Indonesia, vaksin campak diberikan dalam beberapa tahap usia anak sebagai bagian dari program imunisasi nasional.

Dengan kembali munculnya kasus di sejumlah wilayah, masyarakat diimbau untuk memastikan anak telah mendapatkan imunisasi lengkap serta tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah penyebaran campak dan melindungi kelompok masyarakat yang rentan terhadap penyakit ini.